Senyum Petani Ketika Khanduri Blang Tiba

  


ACEHTIMURSATU.COM - tut...tut...tut...tut...Dering ponsel panggilan di pagi itu dari Sardani Keuchik Gampong Tunong Paya Kruep.

"Assalamualaikum Pak Geuchik," Sapa penulis melalui telpon seluler

"Waalaikumsalam,menyoe na panyang umu enteuk cot uroe neulangkah u Meunasah Gampong na acara khanduri blang," Jawab Pak Geuchik yang saat itu belum di ketahui dimana lokasi saat menelpon

"Get Insya Allah Pak Geuchik, si kameng pu si leumoe pak keuchik?," Kata Penulis sambil tertawa

"Leu that pu tanyeng,Pokok jieh neujak laju,ka beuh Assalamualaikum," Balas Pak keuchik sambil keutawa

"Waalaikumsalam pak geuchik," Jawab penulis.


Tak terasa perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar 1 jam dari rumah penulis ke tempat tersebut terlalui dengan keselamatan.

"Assalamualikum Pak geuchik," Sapa penulis usai memarkirkan sepeda motor

"Waalaikumsalam,Neupiyoh Ilee," Jawab Pak geuchik

Tercium aroma kari yang sedang dimasak masyarakat yang begitu membuat perut berdenyut-denyut.

Melihat masyarakat yang begitu antusias dan saling bahu mebahu menyiapkan hidangan khanduri untuk di nikmati bersama.

Sambil menunggu hidangan, banyak perbincangan yang terjadi disana dari keadaan gampong hingga pelaksanaan khanduri blang

Menurut Pak Geuchik (Keuchik) khanduri blang merupakan Khanduri Blang atau khanduri sawah yaitu acara syukuran disertai doa dan makan bersama yang dilaksanakan oleh para petani ketika musim tanam dimulai, tradisi ini sudah mengalir dari nenek moyang bagi petani di Aceh

"Khanduri blang nyoe dari nek moyang geutanyoe kana,masa-masa ubeut loen khanduri blang nyoe kana, khanduri blang nyoe geupeugoet wate ureung geunak mulai di blang," Terang Pak Geuchik Sardani



Ditengah hangatnya perbincangan, terdengar Padri SP.d pak Camat Darul Falah menyapa  "Pajan Katroeh?"

"Na meu 30 Minet ka Pak Camat," Jawab Penulis

Selanjutnya Pak Camat pun merespon dengan baik kegiatan tersebut

"Nyoe acara lagenyoe merupakan adat istiadat geutanyoe aceh jadi beusama-sama tajaga,beutroh bak aneuk cuco geutanyoe," Kata Pak Camat

Hampir satu jam berbincang-bincang, semua tamu undangan dan masyarakat di persilahkan untuk nai keatas menasah guna untuk berdoa (samadiah).

Usai berdoa, Masyarakat dan tamu undangan pun di persilahkan untuk mencicipi hidangan yang sudah tersaji secara bersamaan.

Pada akhirnya penulis pun berpamit kepada pak geuchik dan masyarakat yang ada disana.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Terkini