Cerita, Abu Ganteng Parah Parah Pedagang Keliling Idi, Buat Hati Pembaca Parah


HABA ACEH TIMUR - Siang di Cotta Khupi Idi, tanpa saya sadari, ternyata pemuda itu mengeluarkan isi dalam kantong plastik berbagai rokok, berada disamping meja menunggu saya menikmati segelas Kopi hitam aceh. 

Lantara  penasaran dan ingin mengetahui lebih jauh tentang kehidupan sesok pemuda penjual rokok keliling, saya akhirnya memesan rokok, meski sebenarnya rokok saya pesan tidak àda malah mengantikan merek lain. Lantas pemuda ini cepat menawarkan rokok lain sambil berkata ",Yang itu  habis pak atau yang ini bisa pak ?", kata pemuda itu. "Ya udah, boleh dek", jawab saya.

Mengeluarkan dalam isi kantong plastik hitam pesanan itu berada diatas meja. "Ini pak", kata pemuda itu.

“Makasih beh (makasih ya ) dek", saya  menimpalinya. Karena kami bertiga, pemuda itu mengeluarkan 3 (tiga) bukus rokok. "Berapa dek", tanya teman saya Gobid. "Rp 90 ribu pak", Lantas pak Gobid berikan uang Rp.100.000, sehingga dia mengembalikan ke temen saya pak Gobid Rp.10.000., di Cafe Cotta Khopi, Senin pada 19 Juli 2021, Idi, Aceh Timur.

"Tidak ada uang pas pak, Karena  tidak ada uang pas", katanya sambil mengeluarkan uang pecahan lima ribuan. Uang dua lembar lima ribuan Rp5000 itu senilai sepuluh Rp10 ribu, pemuda itu mengembalikan ke pak Gobid Rp. 10.000. 

Uang kertas kembalian senilai sepuluh ribu itu, temen saya Gobid diberikan saja, sehingga  Gobid membayar 3 bungkus rokok 100.000. "Makasih, pak", pemuda itu.

Sambil kami ngopi kopi panas aceh itu, saya senpatkan bertanya sejenak tentang kehidupan pemuda penjual rokok keliling di kota Idi ini.

"Siapa namanya dek", tanya saya mengawali obrolan. "Abu Hanafi Zainuddin pak", tambanya, panggilan  "Abu ganteng parah..parah", pak.

"Dari mana dek Abu Ganteng parah..parah ..", lanjut saya. "Dari idi", sambungnya. Idi mana, dek ?", tanyak saya lebih mendetil. "Gampong Aceh", jawabnya ulang. Udah lama jualan keliling rokok.

"Saya sudah 1 tahun lebih jualan keliling", jawabnya sambil memandang isi plastik hitam menujukan tumbukan barang dagangan, saya melanjutkan pertanyaan yang lain. "Berapa banyak  sehari habis nya ya dek ?", tanya saya sangat penasaran.

"Ooo ya ngak bang. Ini banyak lah bang, ada Mild, Marboro Samsu..banyak", jawabnya polos dan suasana makin akrab.“Berapa bungkus terjual sehari”, tanya saya. 

Dengan kelakar dia malu dan pelan meyebutnya, pemuda berusia 21 tahun dan berkulit kuning langsat berambut ngondrong itu menjawab. 

"Kadang laku 20 bungkus sehari". Wah banyak dong ya Abu Ganteng Parah Parah", lanjut saya.

"Berarti uangnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah ya", sambung saya buat saya makin penasaran.

"Ya engak lah pak. Paling keuntungan rata-rata 20 ribu hingga 30 ribu rupiah sehari", jawabnya sedikit malu.

"Rokok ini sebungkus Rp.30.000 seperti temen bapak ini pak Didi". " Abang ini pesan 1 bungkus rokok. Jadi hitunganya 2000 + 30ribu, jadi perbungkus saya ambil 2000. Kalau ini 3 bungkus dapat lah laba 6.000 pak", jawabnya Abu Ganteng Parah Parah.

"Oo gitu ya Abu Ganteng Parah Parah. Semagat ya", sambung saya.

“Saya jualan ini sambilan dan bisa dapat uang. Penting bisa beli martabak (makanan) buat mamak pak. Sisanya simpan buat tambah modal, saya modal sendiri bermula Rp.1 jutaan. "Alhamdulliah, sekarang belanja sudah lebih dari 2 jutaan," sambil melihat pemilik cafe juga berjualan rokok. 

Di sela-sela pembicaraan itu, tiba-tiba di juga seorang waiter (pelayan) di salah satu cafe,  dia diberikan izin berjualan rokok dari situlah ia memulai berjualan disela-sela waktu mencari uang tambahan. "Selain jualan keliling dimana saja mangkalnya. 

"Saya  waitress salah satu cafe dikota Idi,  diwaktu kosong saya jualan keliling pak", jawabnya.

Sore itu arlogi menuju pukul 17.20 Wib. Selesai ngopi kopi, kami meninggalkan cafe menuju mobil dan siap-siap pulang ke rumah lantaran waktu sudah sore.

Ketika saya meninggalkan penjual rokok itu hendak beranjak, saya mendengar kalimat "Rp.100.000. Dia sangat ingat kepada ibunda atau mamak dari rejekinya".Ternyata setiap keuntungan dan kelebihan uang kertas kembalian senilai Rp.10.000 di berikan temen saya pak Gobid itu. 

Saya yakin uang kelebihan di berikan pak Gobid itu tidak membuat dia kaya, tetapi membuat dia begitu bahagia sore itu. Tampak raut wajah pemuda gondrong kendati dia tidak menjadi toke," masih ingat membeli makanan buat mamak", Ya beli martabak untuk mamak. Itu kesukaan makanan mamak",kata Abu Ganteng parah..parah.

Ternyata masih ada pemuda kumpulkan uang receh masih ingat sisikan makanan buat mamak, masih ada keuntungan buat sedikit mamak kendati hanya memperoleh keuntungan per bungkus Rp.2000. 

Setidaknya, masih ingat makanan kesukaan mamak. "Martabak", itu bukti rasa bakti buat emak dari pemuda penjul rokok keliling Idi - Aceh Timur. 

Pemudan di sapa Abu Ganteng parah..parah buat sore itu hatiku menjadi parah..parah. Teringat akan ibunda di rumah..memang Abu Ganteng Parah..Parah.(*)

Post a Comment

Previous Post Next Post

Terkini